Friday, February 15, 2019

Aliran aliran Filsafat

Aliran-Aliran Filsafat Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku. Golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya : Filsafat Rasionalisme Yaitu aliran yang berpendapat bahwa akal adalah dasar dari kepastian pengetahuan. Tokoh aliran ini adalah Rene Descartes (1596 – 1650). Aliran ini muncul karena koreksi dari aliran Empirisme menurut kacamata aliran ini manusia akan sampai pada kebenaran semata-mata karena akal, inderawi menurut aliran Rasionalisme hanyalah merupakan bahan yang belum jelas, akal-lah yang kemudian mengatur bahan tersebut sehingga membentuk pengetahuan yang benar. Analogi menurut aliran ini adalah kenapa benda yang jauh akan kelihatan kecil?, karena secara akal bayangan yang jatuh dimata akan kecil atau contoh analogi lain kenapa gula terasa pahit bagi orang yang demam, karena lidah orang yang sakit demam itu tidak normal. Filsafat Empirisme Praja mengemukakan bahwa Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperiayang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Tokoh-tokoh aliran empirisme, antara lain: Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, George Berkeley, David Hume, dan Roger Bacon. Filsafat Kritisisme Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu Immanuel Kant. Di samping aliran-aliran di atas, masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain : Materialisme Berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual  atau supernatural. Beranggapan bahwa hakikat benda adalah benda itu sendiri, hakikat kayu adalah kayu itu sendiri, hakikat air adalah air itu sendiri, begitu pula yang lainnnya. Jadi menurut aliran ini materilah yang hakikat. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach. Idealisme Adalah suatu pandangan dunia atau metafisika yang mengatakan bahwa realitas dasar sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran, atau jiwa. Dunia menurut aliaran ini dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu objek semata-mata. Prinsip pokok dari idealisme adalah kesatuan organik, jadi kesimpulannya menurut aliran ini yang hakikat itu adalah ruh atau ide sedangkan materi bukan hakikat. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali. Realisme Merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme yaitu: Aristoteles, Johan Amos Comenius, William Mc Gucken, Fancis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.   Naturalisme Aliran ini mengajarkan bahwa apa yang disebut kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman, sesuatu yang sudah diadakan oleh Sang Pencipta. Pada para penganut aliran ini, terdapat tiga persoalan yang selalu hidup dalam wacana pemikiran kefilsafatan, yaitu proses, kualitas, dan relasi sebagai eksistensi dan terdapat dalam kejadian / pengalaman. Paham ini didukung oleh Prodicus, Galileo, Grotius, Voltaire. Pragmatisme Aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya. Aliran ini dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun, sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles Sandre Peirce, William James, John Dewey, Heracleitos. Eksistensialisme Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tilich Fenomenologi Aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas. Tokoh-tokoh aliran fenomenalisme, antara lain : Edmund Husserl, Max Scheler, Hartman, Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, Jean Paul Sartre,  dan Soren Kierkegaard. Positivisme Positivisme berasal dari kata “positif”, yang artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan tidak boleh melebihi fakta. Positivisme hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. Positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Hanya saja, positivisme mengandalkan fakta-fakta belaka bukan berdasarkan pengalaman, seperti empirisme. Tokoh aliran positivisme, antara lain : Auguste Comte.  

No comments:

Post a Comment