Sunday, February 17, 2019

Kebijakan Socrates

Kebijakan Socrates Filsuf Yunani yang hidup pada tahun 469-399 sebelum Masehi. Pendapatnya: Membangkitkan dalam diri manusia rasa cinta akan kebenaran dan kebaikan (Philosophia) yang membantu manusia berpikir dan hidup lurus. Semboyannya: “Gnothi Seauthon” artinya “Kenalilah Dirimu”. Semboyan ini diabadikan oleh bangsa Yunani yang dituliskan pada pintu gerbang masuk Kota Yunani.[1] Dengan keteguhan pendiriannya ia rela dihukum mati oleh penguasa melalui pengadilan dengan cara minum racun. Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori Sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative; ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikn keruntuhan Athena oleh kehancurn orang-orang Oligarki dan orang-orang Demokratis. Disekitarnya dasar-dasar lama remuk, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang sombong dibandingkan dengan sebelumnya. Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh Doktrin Relativisme dan Kaum Sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolute dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Antara tahun 421 dan 416 SM adalah masa-masa buruknya hubungan antara Athena dan Sparta. Periode ini menyaksikan kebangkitan Alciblades, salah seorang murid Socrates. Akan tetapi, ia pula yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kehancuran Athena. Ia bertanggung jawab atas kekalahan Athena di Syracuse 413 SM. Beberapa Negara kecil dating merampok Athena. Revolusi ini menandai mulai hancurnya Athena. Delapan tahun kemudian orang-orang Sparta, dibawah komandonya Lysander, menghancurkan Athena tahun 404 SM perang Peloponesia berakhir, menghasilkan Athena takluk dibawah Sparta. Antara tahun 404-403 Partai Oligarki menguasai Athena. Tiga tiran berkuasa dengan tangan besi dan menggunakan metode terror Tahun 403 SM demokrasi untuk terakhir kalinya dicoba dibangun, tetapi itu bukanlah pemerintahan yang bijaksana. Di bawah sponsor merekalah pada tahun 399 SM Socrates dituduh dengan dua tuduhan yaitu, Merusak pemuda dan menolak Tuhan-tuhan Negara. Akan tetapi, Kiekegaard, Bapak Eksisteanfisme Modern, yang mengagumi Socrates dan ia menjadikan filsafat Socrates sebagai model filsafatnya. Kiekegaard menulis disertai tentang filsafat Socrates. Socrates amat berarti bagi Kiekegaard karena Socrates secara kontans menentang orang-orang sofis pada zaman itu. Ia menekankan bahwa banyak filosof abad ke Sembilan belas, khususnya Hegel, pada dasarnya menganut paham yang sama dengan orang sofis. Untuk memebuktikan tuduhan itu Socrates diadili oleh pengadilan Athena pidato pembelaanya yang ditulis oleh Plato, berjudul Apollogis termasuk salah satu bahan penting untuk mengetahui ajaran Socrates. Dalam pengadilan itu Socrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara, 250 melawan 220 (281 lawan 220 menurut Hasan, 1973: 74) Ia dituntut hukuman mati. Bertens menjelaskan ajaran Socrates sebaagai berikut ini. Ajaran itu ditujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari. Akan tetapi, ada perbedaan yanag amat penting antara orang Sofis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui relatifisme kaum sofis. Menurut pendapat Socrates ada kebenaran objektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenal salah dan tidak salah, misalnya. Ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedanggang, dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah dan tidak salah, tidak adil, adil, berani dan pengecut, dll. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut ia menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu mengahasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang digunakan Socrates biasanya disebut dialegtika dari kata kerja yunani dialegsthai yang berarti berckap-cakap atau berdialog.[3] Metode Socrates dinamakan dialegtika karena dialog mempunyai peranan penting di dalamnya. Di dalam traktatnya tentang mertafisika, Aristoteles membrikan catatan mengenai metode Socrates ini. Ada dua penemuan, katanya, yang menyangkut Socrates, kedua-duanya berkenaan dengan dasar pengetahuan. Yang pertama ialah ia menemukan induksi dan yang kedua ia menemukan definisi. Dalam logikanya Aristoteles menggunakan istilah induksi tatkala pemikiran bertolak dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan pengetahuan umum. Itu dilakukan oleh Socrates. Ia betolak dari contoh-contoh kongkret, dan dari situ ia menyimpulkan pengertian yang umum. Misalnya Socrates ingin mengetahui apa yang dimaksud orang dengan arête (keutamaan). Nah, ada banyak orang yang mempunyai keahlian tertentu yang dianggap mereka massing-masing mempunyai arête. Karena itulah Socrates bertanya kepada tukang besi, apa keutamaan bagi mereka; kepada negarawan, filosof, pedagang , dan sebagainya. Ciri-ciri keutamaan bagi mereka masing-masing tentulah tiddak sama, tetapi ada ciri-ciri yang sama: artinya ada ciri keutamaan yang di sepakati oleh masing-masing dari mereka. Socrates mengupayakan sifat umum keutamaan dengan cara menyebut ciri yang disetujui bersama dan menyisihkan ciri khusus yang tidak disetujui bersma. Itulah cara membuat definisi tentang suatu objek. Dari usaha ini Socrates menemukan definisi, penemuaannya yang kedua, kata Aristoteles. Tentu saja penemuan kedua ini berhubungan erat dengan penemuan pertama tadi karena definisi ini diperoleh dengan jalan mengadakan induksi itu. Bagi kita, yang sudah bisa membentuk dan menggunakan definisi, barang kali merasakan definisi itu bukan sesuatu yang amat penting, jadi bukan suatu penemuan yang berharga. Akan tetapi, bagi Socrates pada waktu itu penemuan definisi bukanlah hal yang kecil maknanya; penemuan inilah yang akan dihantamkannya kepada  relatifisme kaum sofis. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya. Tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengetahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar: yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus; yang benar ialah  yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relatif. Mari kita ambil contohnya: apakah kursi itu? Kita periksa seluruh –kalo bisa – kursi yang ada  di dunia ini. Kita menemukan kursi hakim, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati; kita lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat; kita periksa kursi makan, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya tiga, dari rotan: begitulah seterusnya. Nah, kita lihat pada setiap kursi itu selalu ada (1) tempat duduk dan (2) sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada setiap kursi. Ciri-ciri yang lain tidak dimiliki oleh semua kursi tadi. Maka semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Perhatikanlah, semua orang akan sepakat,[4] berarti ini merupakan kebenaran objektif-umum, tidak subjektif-relatif. Tentang jumlah kaki, bahan, dan sebagainya merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi. Bukti adanya kesepakatan umum itu, pengertian umum itu, definisi itu adalah bila kita memesan kursi pada tukang kursi. Kita cukup mengatakan agar tukang kursi membuat kursi buat kita, dengan tidak usah mengatakan “buatkan kursi yang ada tempat duduk dan sandaranya”. Mengapa tidak usah? Karena tukang kursi itu telah mengetahui, karena merupakan kebenaran umum bahwa kursi tentulah ada tempat duduk dan sandaranya. Yang perlu ditulis dalam pesan itu ialah ciri-iri lain yang tidak merupakan kesepakatan umum. Harus kita sebutkan agar dibuatkan kursi kaki empat bahan kayu jati, dan sifat khusus lainya yang dikehendaki. Ciri umum itu disebut ciri esensi dan semua ciri khusus itu disebut ciri aksidensi. Definisi ialah penyebutan semua ciri esensi suatu objek dengan menyisihkan semua ciri aksidensinya. Dengan mengajukan definisi itu Socrates telah dapat “menghentikan” laju dominansi relatifisme kaum sofis. Jadi, kita bukan hidup tanpa pegangan; kebenaran sains dan agama dapat dipegang bersama sebagiannya, diperselisihkan sebagiannya.Dan orang Athena mulai kembali memegang kaidah sains dan akidah agama mereka. Plato memperkokoh tesis Socrates itu. Ia mengatakan kebeneran umum itu memang ada. Ia bukan dicari dengan induksi seperti pada Socrates, melainkan telah ada “disana” di alam ide. Kubu Socrates semkain kuat. Orang sofis semakin kehabisan pengikut, ajaran bahwa kebenaran itu relatif semakin ditinggalkan, semakin tidak laku. Orang sofis kalap, lalu menuduh Socrates merusak mental pemuda dan menolak tuhan-tuhan. Socrates diadili oleh hakim Athena. Di sana ia mengadakan pembelaan panjang-lebar yang ditulis oleh muridnya, Plato, di bawah judul apologia (pembelaan). Dalam pembelaan itu ia menjelaskan ajaran-ajarannya, seolah-olah mengajari semua orang yang hadir di pengadilan itu. Socrates dinyatakan bersalah dengan perbandingan 280 (281) yang menyalahkan Socrates dan 220 yang membenarkannya. Jadi kalah suara 60 (61), ia dijatuhi hukuman mati. Seandainya Socrates memilih hukuman dibuang keluar kota, tentu hukuman itu akan diterima oleh hakim tersebut. Tetapi Socrates tidak ingin meninggalkan kota asalnya. Socrates menawarkan hukuman denda 30 mina (mata uang Athena waktu itu). Pilihan ini ditolak oleh para hakim karena dianggap terlalu kecil, terutama karena Socrates dalam pembelaanya dirasakan telah menghina hakim-hakimnya. Biasanya hukuman mati dilakukan dalam tenggang waktu 12 jam dari saat diputuskannya hukuman itu. Akan tetapi, pada watu itu ada satu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan ke kuil di pulau Delos, dan menurut hokum Athena, hukuman mati baru boleh dijalankan bila perahu itu sudah kembali. Oleh karena itu, satu bulan lamanya Socrates tinggal dalam penjara sambil bercakap-cakap dengan para sahabatnya. Salah seorang diantara mereka, yaitu Kriton, mengusulkan supaya Socrates melarikan diri tetapi Socrates menolak. Di dalam dialog yang berjudul Pharidon. Plato menceritakan percakapan Socrates dengan para murdinya pada hari terakhir hidupnya dan ia melukiskan pula bagaimana Socrates pada suatu senja.

No comments:

Post a Comment